INSTITUTIONAL ECONOMICS #4

TEORI EKONOMI BIAYA TRANSAKSI

Welcome back to my blog, guys! 
          Pada postingan kali ini kita akan lebih banyak membahas mengenai "Teori Ekonomi Biaya Transaksi" atau Transaction Cost Economics. Ekonomi biaya transaksi ini merupakan salah satu alat analisis yang populer dalam ilmu ekonomi kelembagaan yang digunakan untuk mengukur efisien tidaknya desain sebuah kelembagaan. Semakin tinggi biaya transaksi, menunjukkan bahwa semakin tidak efisien kelembagaan yang didesain, sedangkan semakin rendah biaya transaksi menunjukkan bahwa desai kelembagaan tersebut semakin efisien. Biaya transaksi yang digunakan sebagai alat analisis kelembagaan ini sebenarnya menemui beberapa hambatan dalam operasionalisasinya, yakni:
  1. Secara teoritis, biaya transaksi belum memiliki definisi yang pakem atau baku sehingga banyak timbuk cara pandang yang berlainan antar ahli ekonomi kelembagaan.
  2. Transaksi ekonomi adalah hal yang bersifat spesifik sehingga memerlukan variabel biaya transaksi yang berlaku secara khusus, akan tetapi tanpa definisi yang jelas tentang biaya transaksi menyebabkan kesulitan untuk merumuskan variabel-variabelnya.
  3. Permasalahan pengukuran biaya transaksi walaupun definisi dan variabel sudah jelas
          Sekarang kita tahu bahwasannya alat analisis biaya transaksi ini memiliki hambatan-hambatan yang umumnya disebabkan oleh tidak jelasnya makna yang definitif dari biaya transaksi itu sendiri. Oleh karena itu, hendaknya kita menganalisis secara jelas mengenai Definisi dan Makna Biaya Transaksi itu sendiri. Dalam pandangan neoklasik, teori biaya transaksi (transaction costs) muncul karena adanya kegagalan pasar. Neoklasik menganggap bahwa pasar berjalan secara sempurna tanpa biaya apapun (costsless) karena pembeli memiliki informasi yang sempurna dan penjual saling berkompetisi hingga menghasilkan harga yang rendah. Namun, kenyatannya tidaklah demikian, dimana informasi, kompetisi, sistem kontrak dan proses jual beli bisa sangat asimetris. Hal inilah yang menimbulkan biaya transaksi.Kemudian muncul teori Coase (Coase Theorm) yang membahas mengenai biaya transaksi dalam pandangan neoklasik. Coase berpendapat bahwa inefisiensi dalam ekonomi neoklasik tidak hanya disebabkan oleh adanya ketidaksempurnaan pasar, melainkan juga karena adanya biaya transaksi yang hadir secara implisit . Dalam kasus monopoli misalnya, inefisiensi juga terjadi karena kesulitan pihak monopoli kesulitan menentukan jumlah pembeli dan negosiasi di antara mereka. Sedangkan pada kasus eksternalitas, inefisiensi terjadi apabila biaya sosial produksi lebih besar dari biaya privat produksi. Biaya produksi sendiri adalah biaya yang dikeluarkan untuk melakukan aktivitas produksi berupa penyediaan faktor-faktor produksi dan biaya pembuatan output itu sendiri.
          Masih berkaitan dengan definisi dan maka biaya transaksi. Kita akan menganalisis bagaimana para pakar ekonomi mencoba untuk mendefinisikannya. Dimulai dari Coase yang menganggap biaya  transaksi sebagai "biaya mengorganisasi transaksi" seperti menggunakan biaya transaksi untuk mengkonsep ulang maslaah ekstrenalitas dan aspek "koordinasi interaksi manusia" atau coordinating human interaction. Di sisi lain, Williamson mengatakan bahwa biaya transaksi merupakan ongkos untuk menjalankan sistem ekonomi (the costs of running the economic system) dan biaya untuk menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan (costs to a change in circumstances). Sedangkan menurut Mburu, biaya transaksi dapat diartikan dengan lebih luas sebagai biaya peencarian informasi, biaya negosiasi (bergaining) dan keputusan mengeksekusi kontrak, dan biaya pengawasan (monitoring), pemaksaan, dan pemenuhan/pelaksanaan (compliance). Kemudian dapat kita simpulkan untuk lebih mudahnya bahwa sebenarnya biaya transaksi inu adalah ongkos untuk melakukan negosiasi, mengukur, dan memaksakan pertukaran (exchange).
          Furubotn dan Richer menunjukkan secara lebih rinci bahwa biaya transaksi merupakan ongkos untuk menggunakan pasar (market transaction costs), biaya memakai hak untuk memberikan pesanan (orders), dan biaya yang diasosiasikan untuk menggerakkan dan menyesuaikan dengan kerangka politik kelembagaan (political transaction costs). Ketika jenis definisi dari Furubotn dan Richer ini akan dijelaskan sebagai berikut:
  1. Biaya Transaksi Pasar (market transaction costs), dikelompokkan menjadi :
    • Biaya menyiapkan kontrak, seperti biaya pencarian informasi.
    • Biaya mengeksekusi kontrak/concluding contracts seperti biaya negosiasi dan pengambilan keputusan.
    • Biaya pengawasan (monitoring) dan pemaksaan kewajiban yang tertuang dalam kontrak (enforcing the contractual obligations)
  2. Biaya Transaksi Manajerial (managerial transaction costs), meliputi :
    • Biaya penyusunan (settip up), pemeliharaan, atau perubahan desain organisasi, dan fixed transaction costs (biaya transaksi tetap).
    • Biaya menjalankan organsisasi yang terdiri atas biaya informasi dan biaya yang diasosiasikan dengan transfer fisik barang/jasa yang divisinya terpisah (across a separable interface). 
  3. Biaya Transaksi Politik (politicial transaction costs), yang berhubungan dengan penyediaan organisasi dan barang publik yang diasosiasikan dengan aspek politik. Biaya ini berupa biaya penawaran barang publik yang dilakukan melaliui tindakan kolektif. Terdiri atas :
    • Biaya penyusuanan, pemeliharaan, dan perubahaan organisasi politik formal dan informal.
    • Biaya untuk menjalankan poltiik (the costs of running polity) yang merupakan biaya pengeluaran masa sekarang untuk tugas kekuasaan (duties of sovereign).
    Selain berbicara mengenai definisi dari biaya transaksi, secara tidak langsung kita juga membicarakan tentang jenis-jenisnya. Ada biaya transaksi yang disebut dengan biaya transaksi sebelum kontrak (ex-ante) dan setelah kontrak (ex-post). Biaya transaksi sebelum kontrak adalah biaya membuat draf, negosiasi, dan mengamankan kesepakatan. Sedangkan biaya transaksi ex-post meliputi biaya kegagalan adaptasi (maladaption), biaya negosiasi/tawar menawar (haggling costs), biaya untuk merancang dan menjalankan kegiatan yang berhubungan dengan struktur tata kelola pemerintah apabila terjadi sengketa, serta biaya pengikatan agar komitmen yang telah dilakukan bisa terjamin. Di sisi lain, kita juga akan mendengar istilah biaya transaksi tetap (fixed transaction costs) yang merupakan investasi spesifik dalam penyusunan kesepakatan kelembagaan (institutional arrangements) dan biaya transaksi variabel (variable transaction costs) yang merupakan biaya  yang bergantung pada jumlah dan volume transaksi.

          Dalam operasionalisasinya, analisis teori biaya transaksi ini menggunakan dua asumsi perilaku yakni asumsi Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality) dan Perilaku Oportunis (Oportunistic) yang bertujuan untuk menghindari kerugian (adverse selection), moral hazard atau penyimpangan moral, penipuan, kelalaian kewajiban, dan bentuk-bentuk perilaku strategis lain yang menjelaskan pilihan sistem kontrak dan strutur kepemilikan perusahaan. Bounded rationality merujuk pada tingkat dan batas kesanggupan individu untuk menerima, menyimpan, mencari kembali, dan memproses informasi tanpa kesalahan. Bounded rationality ini pun didasarkan atas dua prinsip yakni individu atau kelompok yang terdiri dari beberapa individu memiliki batas-batas kemampuan untuk memproses dan menggunakan informasi yang tersedia dikaarenakannya kompleknya informasi (informational complexity). Kemudian, adanya informasi yang tidak lengkap (incomplete information) atau dengan kata lain ketidakpastian informasi (informational uncertainty). Sedangkan perilaku oportunistik adalah upaya untuk mendapatkan keuntungan melalui praktik yang tidak jujur dalam kegiatan transaksi. Berkaitan dengan perilaku oportunistik ini, Williamson mengatakan bahwa selalui akan terjadi trade-off antara biaya koordinasi dan hierarki dalam organisasi, antara biaya transaksi dan pembuatan kontrak di pasar dimana trade-off  ini bergantung pada besarnya biaya transaksi. Terdapat kegiatam memudahkan atau menyulitkan pembuatan kontrak yang ditentukan oleh tingkat dan biaya transaksi (dipengaruhi oleh keberadaan informasi tidak sempurna). Dalam konteks ini kita bisa melihat bahwasannya informasi merupakan faktor yang memunculkan biaya transaksi. Ekonomi biaya transaksi juga berusaha memahami permainan antara faktor-faktor kelembagan dengan pertukaran pasar dan non pasar, yang kemudian pertukaran tersebut menentukan seberapa besar tingkat biaya transaksi yang ditimbulkan.
         Menurut North (1990b:27), agar pertukaran dan perdagangan bisa terjadi dengan biaya transaksi yang murah, masing-masing pelaku ekonomi harus mengeluarkan sumber daya dalam tiga wilayah yang tergolong kegiatan kontrak.
  • Mengukur atribut yang bisa dinilai sehingga proses pertukaran/transaksi terjadi, karena sering kali kegiatan pertukaran gagal dieksekusi akibat tidak memiliki informasi yang lengkap tentang atribut barang dan jasa tersebut.
  • Melindungi hak-hak terhadap barang dan jasa yang telah dipertukarkan. Merupakan faktor terpenting yang memengaruhi besaran biaya transaksi adalah sifat hak-hak kepemilikan di dalam masyarakat. Bagi aliran kelembagaan baru, pemapanan dan penegakan hak-hak kepemilikan swasta (private property rights) adalah aspek yang sangat vital dalam pembentukan biaya transaksi dan untuk menjamin keamanan yang dibutuhkan bagi investasi jangka panjang. Tidak adanya atau rendahnya penegakan hak kepemilikan ini dapat menjadi penyebab keterbelakangan suatu negara, Tidak heran apabila mazhab  ekonomi kelmebagaan baru memberikan apresiasi yang tinggi terhadap masalah hak kepemilikan (property rights).
  • Meregulasi dan menegakkan kesepakatan.         
          Selanjutnya kita akan membahasa sedikit tentang Biaya Transaksi dan Efisiensi Ekonomi. Banyak faktor yang menjadi penyebab suatu biaya transaksi rendah ataupun tinggi. North berargumentasi bahwa dalam komunitas pedesaan di negara yang sedang berkembang, biaya transaksi yang terjadi biasanya rendah. Hal ini dapat terjadi karena kedekatan hubungan di dalam komunitas (keluarga, tetangga) sehingga informasi yang ada dalam komunitas individu tersedia secara luas. Selain itu, struktur sosial juga mendukung hal ini. Adanya figur kepemimpinan yang dihormati menjalankan mekanisme yang sangat penting bagi penegakan kesepakatan dan memberikan solusi apabila terjadi konflik di antara anggota komunitas. Namun, kegiatan ekonomi tidak hanya terjadi di pedesaan akan tetapi terus berjalan hingga di luar komunitas desanya. Hal ini memungkinkan terjadinya jaringan perdagangan yang semakin kompleks dan impersonal sehingga menyebabkan biaya transaksi kian meninggi. Apabila biaya transaksi terlalu tinggi maka perdagangan tak akan terjad dan ekonomi menjadi stagnan. Terciptanya pembangunan ekonomi dengan biaya transaksi serendah mungkin walau pada kondisi perdagangan yang kompleks dapat tercapai apabila desain pembangunan kelembagaan yang dibuat memang mendukung kegiatan perdagangan, seperti melalui penyediaan informasi, melindungi hak kepemlikan, dan menyiapkan mekanisme yang efektif untuk menegkkan kesepakatan. Selain hubungan dalam komunitas dan kompleksnya perdagangan, biaya transaksi juga dapat dipengaruhi oleh penyimpangan dalam wujud:

  1. Penyimpangan atas lemahnya jaminan hak kepemilikan;
  2. Penyimpangan pengukuran atas tugas yang kompleks (multiple-task) dan prinsip beragam (multiple-principal);
  3. Penyipangan intertemporal, seperti kontrak yang timpang, responsivitas waktu yang nyata (real time), ketersembunyian informasi yang panjang (long latency), dan penyalahgunaan startegis;
  4. Penyimpangan yang muncul karena kelemahan dalam kebijakan kelembagaan, yang berhubungan dengan pembangunan dan reformasi ekonomi;
  5. Kelemahan integritas (probity) yang dirujuk oleh James Wilson sebagai "sovereign transactions".
          Dari beberapa poin di atas dapat disimpulkan bahwa akar dari seluruh permasalahan biaya transaksi adalah informasi yang kurang sempurna. Beberapa pihak yang berkecimpung dalam perekonomian memiliki keterbatasan kemampuan untuk memproses sejumlah informasi yang kompleks sehingga dibutuhkan suatu bentuk adaptasi yang dapat disebut dengan biaya transaksi. Kemudia, dalam biaya transaksi kita akan melihat bahwa terdapat tiga level skema  dimana ekonomi biaya transaksi dapat bekerja. Level atau tingkatan-tingkatan ini terdiri atas lingkungan kelembagaan. tata kelola, dan individu. Lingkungan kelembagaan menempati tempat teratas dan memegang pengaruh terbesar atas perubahan, Perubahan-perubahan dalam lingkungan kelembagaan diperlakukan sebagai parameter perubahan, yakni perubahan yang menggeser biaya perbandingan pasar, hybridsm dan hierarki (hierarchies). Sedangkan dalam level tata kelola, terdapat konsep hubungan tata kelola (relatioship governance) yang dipisahkan menjadi tata kelola pasar (market governance), tata kelola bertingkat (hirarchical governance), dan tata kelola relasional (relational governance). Dengan basis tata kelola ini, pelaku dieskpektasikan mengikuti pola perilaku yang dipresentasikan oleh seperangkat norma dan nilai-nilai.
          Kemudian, masih berbicara mengenai biaya transaksi, relatif pentingnya perbedaan biaya yang diasosiasikan denga transaksi tergantung dari sifat transaksi tersebut. Williamson menyebutkan tiga sifat dari transaksi yakni frekuensy (frequency), ketidakpastian (uncertainty), dan spesifitas aset (asset specificity). Setelah mengetahui berbagai macam tentang biay transaksi, yang menjadi pertanyaan sekrang adalah bagaimana cara mengukur biaya transaksi trsebut? Determinan dan Variabel Biaya Transaksi merupakan sedikit dari pembahasan mengenai pengukuran biaya transaksi yang menjadi isu utama. Meskipun berbagai studi empiris telah dilakukan namun kerancuan definisi masih saja muncul. Banyak studi-studi muncul untuk mengetahui secara pasti apakah sebenarnya yang dimaksud dengan biaya transaksi dan bagaimana pengukurannya. Studi-studi ini pernah dilakukan oleh Wallis dan North, kemudian Willianson, lalu Joskow yang pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa pengukuran biaya transaksi merupakan masalah pelik sehingga diperlukan pemahaman yang sama mengenai definisi, determinan, dan variabel yang seragam dari biaya transaksi. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa faktor-faktor yang memengaruhi besaran biaya transaksi ini adalah seperti hak-hak kepemilikan, penerimaan informasi, dan kelembagaan yang memfasilitasi transaksi. Dari ketiga faktor tersebut, sebetulnya kita dapat memformulasikan determinan dari baiya transaksi. Setidaknya terdapat empat determinan penting dari biaya transaksi sebagai unit analisis (Beckman, 2000:16) yang antara lain :
  1. Apa yang disebut dengan atribut perilaku yang melekat pada setiap pelaku ekonomi (behavioral attributes of actors)? Yaitu rasionalitas terbatas dan oportunisme.
  2. Sifat yang berkenaan dengan atribut dari transaksi (attributes of the transaction), yaitu spesifitas aset , ketidakpastian, dan frekuensi.
  3. Hal-hal yang berkaitan denga struktur tata kelola kegiatan ekonomi yaitu pasar, hybrid, hierarki, dan pengadilan, regulasi, birokrasi publik (public bureaucracy)
  4. Faktor yang berdekatan dengan aspek lingkungan kelembagaan yaitu hukum kepemilikan, kontrak, dan budaya.
          Setelah mengetahui empat determinan penting dari biaya transaksi tersebut, lalu bagaimanakah konsep biaya transaksi yang sedemikian kompleks tersebut bisa diderivasi dalam bentuk variabel-variabel yang mudah diukur? Collins dan Fabozzi (1991:28) menjelaskan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan formulasi biaya transaksi berikut:
  • Biaya transaksi = biaya tetap + biaya variabel
  • Biaya tetap = komisi + transfer fees + pajak
  • Baiaya variabel = biaya eksekusi + biaya oportunitas
  • Biaya eksekusi = price impact + market timing costs
    • Price impact  adalah biaya untuk menangkap pergerakan harga aset yang merupakan hasil dari perdagangan ditambah selisih dari harga pasar.
    • Market timing costc (biaya waktu pasar) merujuk pada pergerakan harga aset pada saat dilakukan transaksi yang selanjutnya dilekatkan kepada pelaku pasar yang lain.
  • Biaya oportunitas = hasil yang diinginkan - pendapatan aktual - biaya eksekusi - biaya tetap
    • Biaya oportunitas adalah perbedaan antara kinerja investasi aktual dan kinerja investasi yang diharapkan, disesuaikan dengan biaya tetap dan biaya eksekusi.
    • Biaya eksekusi adalah ongkos yang muncul akibat permintaan eksekusi yang cepat (immediate execution).
          Selain variabel-variabel di atas, biaya transaksi memiliki variabel yang lebih luas terutama dalam level perusahaan. Akan ada variabel-variabel seperti biaya-biaya akuisisi, memotivasi pelanggan, mengelola distributor, memuaskan pemegang saham dan peminjam, penelitian dan pengembangan, biaya pemasaran, manajemen, iklan, biaya teknologi informasi, bahkan laporan neraca keuangan yang telah diaudit. Dari deskripsi tersebut bisa dibayangkan betapa luasnya ruang lingkup biaya transaksi, khususnya pada level perusahaan. Segala pengukuran atas variabel biaya transaksi tersebut merupakan bagian kecil dari konsentrasi ekonomi biaya transaksi sebagai unit analisis untuk mengetahui kegiatan ekonomi. 


SUMBER :
Yustika, Ahmad Erani. 2013. Ekonomi Kelembagaan : Paradigma, Teori, dan Kebijakan. Jakarta : Erlangga.


Komentar

Postingan Populer