Institutional Economics #1

Hy guyyss! 
whatsupp!
Welcome back to my blog!! *yea
It's been a long time since I posted my last post in January 2016 and I will make a "Come Back Post" 

      First, let me do some flashback to my last post. I think it was about my college experiences consist of my KRS (kartu rencana studi/study planning card), UKT (uang kuliah tunggal/single college money?), and everything about my happiness and sadness as a student in my college. Fyi, I'm in Brawijaya University rn, and it's my 3rd year of college, 5 semester exactly. 

       This post will not come so far from my last post. It's about my college too, but I will not tell you about how I run my college, it's going well or not, or I get some haters or fans, no...I'm not telling you about that. Right in the point, this post comes with my assignment about "Institutional Economics" which mean Ekonomi Kelembagaan in Bahasa. In this semester, Instutional Economics would become one of my subject in college. And I'll try to do as best as I can to make it done. I hope you will not skip this, keep reading and enjoy!

      Before I go, please let me say thanks to Dear Miss. Yenny Kornitasari, S.E.,M.E as my lecturer in Institutional Economics for giving this assignment and the chance that given to finish this task. I hope this assignment could fulfill the goals of the task. Please accept my apologize for every mistake that happened here, and every correction you give would be an honor for me.


Wish you have a good time of this full-of-knowledge-post ! :)

Apa Itu Ekonomi Kelembagaan?


      Terdiri dari dua kata sederhana yang mungkin sudah tidak asing didengar oleh pembaca, yakni kata ekonomi dan kelembagaan. Kedua kata ini menjadi tidak asing, akan tetapi bagaimana apabila kedua kata ini digabungkan  menjadi satu kesatuan? Apakah akan memiliki arti yang sama? Untuk mencari tahu lebih lanjut mari kita jabarkan lebih rinci mengenai definisi dari ekonomi dan kelembagaan. 

      Masyarakat awam mengenal ekonomi sebagai ilmu yang mempelajari tentang uang, pergerakan uang, kegiatan transaksi, maupun sebagai sebuah kebijakan yang mengatur keuangan negara. Akan tetapi, pada dasarnya ekonomi tidak hanya berbicara mengenai uang atau bagaimana perputarannya. Ekonomi atau ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari atau berfokus pada aktivitas manusia yang dapat berupa kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi terhadap barang dan jasa. Sedangkan apa itu kelembagaan? Banyak sekali para ahli yang memiliki pendapat berbeda mengenai makna dari kelembagaan itu sendiri. Menurut salah satu ahli yang bernama North (1994;360) yang dikutip dari buku Ekonomi Kelembagaan oleh Bapak Ahmad Erani Yustika (Bab 2 hal 26 kalimat ke 2) memaknai kelembagaan sebagai aturan-aturan yang membatasi perilaku menyimpang manusia (humanly devised) untuk membangun struktur interaksi politik, ekonomi, dan sosial. Aturan-aturan tersebut terdiri atas aturan formal dan informal. Aturan formal dapat berupa konstitusi, statuta, hukum, dan seluruh regulasi pemerintah lainnya. Aturan formal ini membentuk sistem politik (struktur pemerintahan, hak-hak individu), sistem ekonomi (hak kepemilikan, kontrak), dan sistem keamanan (peradilan, polisi). Sedangkan aturan informal meliputi pengalaman, nilai-nilai tradisional, agama, dan seluruh faktor yang memengaruhi bentuk persepsi subyektif individu tentang dunia dimana mereka hidup.

      Dari pengertian atau pemaknaan mengenai arti kelembagaan di atas, dapat kita ketahui bahwa kelembagaan sebenarnya berbicara mengenai hal yang non-fisik, bukan secara fisik. Pada awalnya mungkin pembaca akan berpikir bahwasannya kelembagaan merupakan sebuah bentuk institusi atau lembaga secara fisik seperti lembaga keuangan, dan lembaga-lembaga lainnya. Namun, pada akhirnya kita mendapatkan kesimpulan bahwa kelembagaan disini berbicara hal yang totally non-fisik yang berupa aturan-aturan maupun sistem. Kelembagaan juga dapat diartikan sebagai aturan main atau rules of the game  yang ada/terjadi di masyarakat. Dari sinilah kita mengetahui apa maksud dari pengertian ekonomi kelembagaan tersebut. Mengingat bahwa ekonomi kelembagaan terdiri atas 2 kata yang saling berhubungan (ekonomi dan kelembagaan) yang artinya keduanya akan saling berkaitan dan memiliki arus yang sama. Oleh karena itu, ekonomi kelembagaan dapat diartikan sebagai suatu pendekatan yang mempelari tentang bagaimana suatu aturan atau sistem yang ada di masyarakat dapat mempengaruhi kinerja perekonomian di lingkungannya yang di sisi lain perekonomian juga dapat memberikan pengaruh pada sebuah kelembagaan.

      Pendapat mengenai perekonomian yang memengaruhi kelembagaan juga diperkuat oleh Chang (2011:476) yang mengatakan bahwa ekonomi dapat mengubah kelembagaan melalui beberapa sisi.
  1. Peningkatan kesejahteraan akibat pertumbuhan ekonomi menciptakan permintaan terhadap kelembagaan yang lebih bermutu.
  2. Kesejahteraan yang lebih baik juga memicu terwujudnya kelembagaan menjadi lebih terjangkau.
  3. Pembangunan ekonomi menciptakan agen-agen perubahan baru (new agents of change).
      Pendapat Chang ini dikutip dari buku Ahmad Erani Yustika yang berjudul Ekonomi Kelembagaan (Bab 2 hal 28 paragraf ke 3 kalimat pertama). Sumber lain mengatakan bahwa Ekonomi Kelambagaan ini merupakan salah satu cabang ilmu ekonomi yang mempelajari pengaruh dan peranan institusi formal dan informal terhadap kinerja ekonomi baik pada tingkatan makro maupun mikro. Setelah mengetahui tentang bagaimana pemaknaan Ekonomi Kelembagaan tersebut, kita akan membahas mengenai teori-teori yang berkaitan dengan Ekonomi Kelembagaan ini. Berbagai sumber menyebutkan bahwa Ekonomi Kelembagaan terbagi atas dua aliran yang berbeda, Kedua aliran ini adalah Ekonomi Kelembagaan Lama dan Ekonomi Kelembagaan Baru. Berikut penjelasan lebih rinci : 

1. Ekonomi Kelembagaan Lama (Old Institutional Economics)


    Adanya Ekonomi Kelembagaan Lama menunjukkan bahwa ilmu Ekonomi Kelembagaan telah ada sejak lama. Teori Ekonomi Kelembagaan Lama ini telah dibahas sejak lama oleh ahli kelembagaan Amerika yang dikenal dengan American Institutional Tradition seperti Thorstein Veblen, Wesley Mitchell, John R, Commons, dan Clarence Ayres. Disamping itu ahli-ahli klasik seperti Adam Smith dan John Stuart Mill, Karl Marx, dan aliran Marxian lainnya juga berperan dalam teori Ekonomi Kelembagaan Lama ini. Munculnya Ekonomi Kelembagaan Lama ini diakui sebagai kritik terhadap aliran ekonomi neoklasik yang merupakan kelanjutan dari teori ekonomi klasik yang dirasa tidak relevan dan tidak sesuai dengan beberapa pandangan. Seperti yang dikemukaan oleh Samuels (1995:573) :
  • Ekonomi Kelembagaan cenderung kepada sebuah proses evolusioner yang berbeda dengan teori ekonomi klasik yang percaya terhadap penyesuaian mekanisme secara otomatis (automatic adjustment mechanism) melalui perubahan dalam sistem harga.
  • Samuel berpandangan bahwa ahli ekonomi kelembagaan lebih pluralistik atau demokratis dalam orientasinya sedangkan neoklasik kerapkali menerima struktur seperti apa adanya (given).
  • Neoklasik mengabaikan institusi dan oleh karena itu mengabaikan relevansi dan arti penting dari kendala-kendala non anggaran (non budgetary constraints)
  • Kultur dan kekuasaan (culture and power) menentukan cara bagaimana individu berperilaku. Individu-individu diikat oleh masyarakat melalui norma-norma dan nilai-nilai, sehingga mereka cenderung bertindak secara kolektif daripada secara pribadi. Pandangan ini mereduksi keyakinan dalam ekonomi neoklasik tentang perilaku untuk memaksimalkan kepentingan pribadi (individual maximazing behavior).
  • Ide penting yang dibuat oleh ekonom kelembagaan adalah bahwa faktor teknologi tidaklah given atau menerima struktur apa adanya. Teknologi merupakan sebuah proses perubahan yang berkesinambungan dan hal itu menyebabkan perubahan yang penting pula. Dengan pandangan itu, teknologi bisa menentukan ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya fisik (physical resources).
  • Ahli kelembagaan juga menolak pandangan neoklasik atas pasar bebas dan pasar yang efisien (free and efficient market). Mereka berpikir bahwa sistem pasar itu sendiri merupakan hasil dari perbedaan kelembagaan yang telah eksis dalam kurun waktu tertentu.
  • Akhirnya, ekonom kelembagaan melihat ekonomi merupakan cara pandangan yang menyeluruh (holistic way) dan mencoba untuk menjelaskan aktivitas ekonomi dalam perspektif multidisipliner.
      Selain perbedaan-perbedaan yang bertentangan antara ekonomi kelembagaan dan ekonomi neoklasik di atas, terdapat beberapa kesaman antara keduanya. Keduanya meyakini bahwa esensi dari ilmu ekonomi adalah bagaimana menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa yang sangat terbatas. Keduanya juga mengasumsikan kemampuan manusia untuk mengelola hal itu, serta percaya pada sistem dan mekanisme insentif dan disinsentif. Ekonomi kelembagaan dan ekonomi neoklasik percaya terhadap prinsip-prinsip kegunaan atau utility yang akan semakin berkurang. Kepercayaan terhadap kenaikan harga yang akan meningkatkan produksi barang dan jasa juga dianut oleh dua padangan ekonomi ini. Hal yang terpenting adalah, baik ekonomi kelembagaan dan ekonomi neoklasik merasa yakin akan kemampuannya untuk mengatasi kompetensi pasar tidak sempurna.


2. Ekonomi Kelmbagaan Baru (New Institutional Economics)


    Setelah mengenal tentang Ekonomi Kelambagaan Lama atau Old Institutional Economics, kini kita akan membahas tentang Ekonomi Kelembagaan Baru atau biasa disebut dengan New Institutional Economics/NIE. NIE ini dianggap sebagai kelanjutan atau perluasan dari elemen-elemen kelembagaan yang ditemukan dalam aliran ekonomi klasik, neoklasik, dan mahzab Austria (Austrian economics). Dengan adanya NIE ini bukan berarti Ekonomi Kelembagaan yang Lama tidak digunakan lagi melainkan lebih kepada pengembangan yang bersifat dinamis menyesuaikan dengan keadaan yang lebih relevan. NIE pun masih menggunakan dan menerima asumsi teori neoklasik, yang artinya NIE mencoba menjelaskan pentingnya peran dari kelembagaan, namun tetap menekankan bahwa pendekatan ini dapat dipakai dengan menggunakan teori ekonomi neoklasik. Sebaliknya, ekonomi neoklasik mengabaikan secara total mengenai peran kelembagaan yang diasumsikan para pelaku ekonomi berada pada ruang yang bebas nilai.
       Beberapa asumsi neoklasik yang diabaikan oleh NIE adalah berupa informasi yang sempurna, tidak ada biaya transaksi/zero transaction costs, dan rasionalitas yang lengkap. Sedangkan asumsi individu milik neoklasik yang berusaha mencari keuntungan pribadi untuk mendapat kepuasan maksimal tetap diterima. Apabila dibandingan antara Ekonomi Kelembagaan Lama dan yang baru, terdapat kunci perbedaan yakni mengenai kebiasaan. Para ahli Ekonomi Kelembagaan Lama berpendapat bahwa kebiasaan atau habit merupakan faktor krusial yang akan menentukan formasi atau bentuk kelembagaan. Sedangkan menurut pakar Ekonomi Kelembagaan Baru lebih berfokus pada bagaimana kondisi dan pentingnya kelembagaan digunakaan sebagai salah satu sarana interaksi antar individu yang artinya kelembagaan yang mengontrol kebiasaan antar individunya.
        Perlu diketahui pula bahwa Ekonomi Kelembagaan Baru memiliki cabang-cabangnya sendiri. Menurut buku Ekonomi Kelembagaan karya Ahmad Erani Yustika (Bab 2 hal 36 ) dijelaskan bahwa NIE berada pada dua level yakni lingkungan kelembagaan atau institutional environment  yang bergerak pada level makro dan kesepakatan kelembagaan atau institutional arrangementyang bergerak pada level mikro. Secara makro, institutional environtment ini berperan sebagai sebuah struktur aturan politik, sosial, dan legal yang memperkuat kegiatan produksi, pertukaran, dan ditribusi, dapat juga berupa hak kepemilikan, tata cara pemilihan, dan hak-hak di dalam kontrak ekonomi. Sedangkan secara mikro, institutional arrangement lebih berfokus kepada masalah tata kelola kelembagaan (institutions of governance). Yang dimaksud dengan tata kelola kelembagaan ini dapat berupa nkesepakatan antar unit ekonomi untuk memperoleh jalan agar hubungan antarunit tersebut dapat berlangsung baik, entah itu dengan kerjasama maupun dengan berkompetisi. 


Selesai.



Daftar Pustaka :
Yustika, Ahmad Erani. 2013. Ekonomi Kelembagaan : Paradigma, Teori, dan Kebijakan. Jakarta : Erlangga.


Akhirnya penjelasan mengenai bagaimana pemaknaan Ekonomi Kelembagaan ini dapat terselesaikan. Pun penulis mengakui banyaknya kekurangan yang terletak di sana sini, karena penulis juga sedang berusaha belajar dan memahami yang kemudian ditumpahkan pada tulisan ini. Tulisan ini berpedoman sepenuhnya kepada pengetahuan penulis dan buku Bapak Prof. Dr, Ahmad Erani Yustika yang berjudul Ekonomi Kelembagaan. Semoga isi dari tulisan ini dapat menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan pembaca, serta mampu memenuhi tujuan tugas yang diberikan oleh dosen penulis. Terima Kasih.


Citra Rosalina Fikri
145020100111052
Ilmu Ekonomi/Ekonomi Pembangunan
Universitas Brawijaya

Komentar

Postingan Populer